Tips menjaga kesehatan telinga

2 Sep 2010
Tidak sedikit orang yang membersihkan telinga dengan cara yang salah. Padahal kesalahan ketika membersihkan telinga dapat berakibat buruk bagi kesehatan. Untuk lebih berhati-hati, ada baiknya jika anda mengenal dulu apa saja yang ada pada telinga.

Telinga terdiri dari 3 bagian yakni bagian luar(outer ear), tengah(middle ear), dan dalam(inner ear).
Bagian luar dan tengah berperan penting dalam pengumpulan serta pengiriman suara.Sedangkan telinga bagian dalam memiliki mekanisme agar tubuh tetap seimbang dan bertanggung jawab untuk mengubah gelombang suara menjadi gelombang listrik.
Melalui lubang telinga, suara yang masuk akan menggetarkan selaput kaca pendengaran dalam rongga telinga.
Getaran ini akan menggerakkan tulang-tulang pendengaran
sampai ke tulang sanggurdi.
Cairan dalam rumah siput (cochlea) pun ikut bergetar.
Gerakan cairan ini membuat sel-sel rambut terangsang.

Rangsangan inilah yang ditangkap saraf pendengaran yang akhirnya diteruskan ke otak.
Manusia normal mampu mendengar suara berfrekuensi 20 – 20.000 Hz (satuan suara berdasarkan perhitungan jumlah getaran sumber bunyi per detik) dengan intensitas atau tingkat kekerasan di bawah 80 desibel (dB).
Pada liang telinga, tepatnya di 1/3 bagian luar telinga yang berbulu, terdapat kelenjar minyak atau serumen.
Ini berfungsi untuk mencegah masuknya kotoran, serangga, serta bakteri.

Dalam keadaan normal kelenjar ini akan mengeluarkan minyak sedikit demi sedikit, meleleh keluar ke daun telinga.
Limbahnya menyerupai kotoran yang liat atau lembek, namun akan mengering dengan sendirinya.
Setelah kering, kelenjar tadi akan memproduksi minyak kembali.
Demikian mekanisme kerjanya dalam membersihkan telinga secara alami. Tetapi kalau liang telinga terlalu sering dirangsang, kelenjar ini akan mengeluarkan minyak berlebihan yang justru kurang baik buat kesehatan telinga.

Menurut dr Entjep Hadjar, ahli penyakit telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) dari RSUPN dr Cipto Mangunkusumo dalam sebuah artikel, membersihkan kotoran telinga sebenarnya cukup sebatas daun telinga saja, tidak perlu sampai ke liang telinga.
Sebagian besar kotoran malah akan terdorong masuk ke bagian lebih dalam yakni gendang telinga yang kemudian menumpuk dan membatu.
Apalagi kalau jenis kotorannya kering dan keras.
“Di sinilah seseorang akan mendapat masalah karena bagian dalam telinga terasa gatal.
Kalau dikorek-korek sendiri, dengan korek kuping misalnya, bisa mengakibatkan luka kulit atau gendang telinga, kulit gatal mirip eksim atau bahkan terjadi infeksi sampai bernanah (otitis media) alias congek”, tambah dr Hadjar.

Kalau diketahui ada kotoran yang telah mengeras di dekat gendang telinga, harus segera diperiksakan ke dokter ahli THT.
Biasanya dokter akan memberikan obat tetes telinga (karbol gliserin 10%) untuk memecahkan kotoran tersebut.
Kotoran yang sudah pecah disemprot atau dikorek keluar.
Infeksi yang barangkali timbul lantaran iritasi kotoran itu diatasi dengan pemberian obat antibiotika.
Di samping bisa mengakibatkan infeksi, kotoran membatu tadi akan menyebabkan telinga terasa sakit atau agak tuli sehabis berenang.
Sebab air yang masuk akan terhalang keluar.
Bahkan, kalau lubang telinga yang tersumbat hanya sebelah, bisa mengakibatkan pusing atau vertigo (berputar), terutama bila anda berenang di air dingin.

Gangguan pada telinga yang tersumbat kotoran bisa juga muncul saat naik pesawat udara.
Pasalnya, udara yang masuk pada saat tekanan tinggi tidak dapat keluar dengan leluasa.
Akibatnya telinga akan terasa sakit bahkan yang paling mengkhawatirkan kalau sampai gendang telinga pecah.
Nah, pembagian permen yang biasa dilakukan oleh para pramugari di atas pesawat sebelum lepas landas itu secara tak langsung sebenarnya berguna untuk kesehatan telinga kita.
Mengunyah sesuatu atau mengulum permen bisa menyeimbangkan udara yang masuk melalui telinga, agar udara tidak terkunci di dalam.

Sumber : KasKus