Tips Tetap Bahagia di Rumah Mertua

13 Jun 2013
Tips Tetap Bahagia di Rumah Mertua
Ilustrasi Rumah Mertua (kaskus)
Sebuah Tips - Karena rata-rata pengantin muda belum mempunyai banyak tabungan

Pertanyaan paling sering diajukan pada setiap pasangan baru menikah adalah, akan tinggal di mana setelah menikah? Ini termasuk hal yang sangat penting, untuk segera dicarikan solusi terbaik.
Gawatnya, banyak yang tidak siap dengan pertanyaan ini. Lebih gawat lagi mereka baru membicarakan hal ini setelah habis masa bulan madu. Setelah bulan madu selesai, mereka baru sadar, kalau mereka butuh tempat tinggal.

Pasangan baru yang sudah mantap dalam hal finansial mungkin tak bingung dengan tempat tinggal. Tinggal tunjuk rumah mana yang yang akan di pilih sesuai selera. Jika mau bangun rumah sendiri juga bisa. Namun Sial sekali, rata-rata pengantin muda belum punya tabungan banyak, sedang harga rumah sekarang jutaan rupiah mahalnya. Kalau mau bangun rumah perlu waktu dan lebih banyak biaya. Sedangkan kebutuhan tempat tinggal semakin mengejar.

Pondok mertua indah. So What gitu lo…?
Solusi akhirnya datang juga. Kali ini solusi datang dari orang tua khususnya mertua yang mempersilahkan anda dan pasangan tinggal. Lega rasanya masalah tempat tinggal bisa teratasi. Tinggal di rumah mertua atau keren disebut Pondok Mertua Indah, Setidaknya untuk sementara? Bahkan bukan sekedar sementara. Kadang pasutri harus tinggal di rumah mertua itu selamanya. Ops? Kok bisa? Ini bisa saja permintaan orang tua sendiri. Kadang mereka butuh di temani dan tak ingin kesepian berdua di usia senja mereka. Kebanyakan mereka ingin salah satu anaknya merawat mereka sebagaimana mereka merawat anda sewaktu kecil. Melihat permintaan ini, anak mana yang tidak trenyuh? Sebagai anak yang berbakti. Anda dan pasangan lalu mengiyakan permintaan itu. Yang penting masalah tempat tinggal teratasi dulu.

Kendala serumah dengan mertua :

Tak ada sesutaupun yang gratis dan benar-banar enak! Seloroh orang jawa mengatakan “ Wong oleh gratis kok pengen slamet?” (Dapat gratis kok ingin selamat?). Benar sekali. Tinggal di rumah mertua itu tak lantas nol masalah. Biasanya masalah ini akan segera muncul setelah masa tinggal setahun atau lebih. Apalagi setelah jabang bayi lahir. Biasanya ada perbedaan mendasar tentang asuhan anak. Antara mertua menantu itu yang paling kentara. Apalagi sang menantu adalah laki-laki. Di mana mempunyai ego seorang pemimpin keluarga yang ingin punya kendali penuh terhadap anak dan istrinya. Hal ini akan bentrok dengan ego mertua yang kadang tak bisa mengontrol interfensinya terhadap anak dan anak menantunya. Perbedaan pandangan tentang anak juga sering memicu konflik di antara menantu dan mertua. Satu sisi sang mertua sangat khawatir terhadap cucunya sehingga ia begitu protektif. Mertua akan sangat ingin menularkan pengalaman mangasuh anak pada menantunya dan kadang-kadang menabrak statusnya sebgai seorang ‘nenek/kakek saja’ yang biasanya mengalahkan fungsi anaknya sebagai “ayah dan ibu” si bayi. 

Namun diantara problem di atas yang paling menggalaukan hati sepasang suami istri adalah kurangnya prifasi bagi mereka. Maklum pengantin baru. Inginnya honey moon terus seumur hidup. Walaupun ada kamar pribadi tetaplah dirasa sesak menampung perasaan cinta mereka yang luas ( ceilee…). Hendak keluar kamar pun pasti berlaku hukum ewuh pakewuh, serba jaim dan dilarang keras mengumbar kemesraan di depan mertua. Mau keluar rumah berduaanpun tak akan terhidar dari interogasi “mau kemana? dimana? Untuk apa? kapan pulang?” dan pertanyaan pertanyaan khas seorang orang tua kepada anaknya seakan-akan anda dan pasangan adalah anak yang masih unyu-unyu sehingga perlu di awasi sepanjang tarikan nafas. Kalau seperti itu, kehidupan rumah tangga layaknya Indonesia masih di jajah belanda saja. Terus anda harus bagaimana ? Sukur kalau anda tak mengalami kendala di atas. Tapi saya tak begitu yakin. Buktinya anda masih terus saja membaca artikel ini.  . Karena itu mari kita diskusi bersama tentang riak kecil rumah tangga ini. 

Sikap pertama : Menundukkan ego pribadi sekaligus ego orang tua
Manusia selalu tidak suka di interfensi hidupnya. Apalagi ini menyangkut hidup keluarganya. Tapi jika yang meng-interfensi adalah orang tua atau mertua kita sendiri, perlu perlakuan khusus untuk mengatasinya. Langkah pertama adalah Ikrarkanlah bahwa anda adalah anak mereka dan mereka adalah orang tua anda. Jika mereka adalah mertua, tetaplah stay cool, bukankah mertua adalah orang tua istri atau suami anda, otomatis mereka juga orang tua anda? Iklaskan hukum sebab akibat bekerja, bahwa sebagai orang tua berhak mengatur anaknya dan anak berkewajiban untuk mematuhinya.

Setelah anda iklas. Sadarilah anda juga punya hak untuk mengatur hidup anda sendiri. Apalagi anda sudah berkeluarga, yang artinya anda dan pasangan memang sudah saatnya mandiri. Belajar kemandirian mutlak anda butuhkan. Interfensi yang kadang-kadang keluar dari mulut orang tua/mertua anda itu disebabkan mereka kurang yakin dengan performa anda dan pasangan sebagai keluarga baru. Sehingga kadang orang tua ikut campur tangan (kadang-kadang kaki) dengan kehidupan rumah tangga anda. Karena mereka kurang yakin. Maka yakinkan mereka, bahwa anda sudah mampu mandiri. Atasi masalah keluarga sendiri, Cakaplah mengurus anak sendiri. ilmu untuk mengurus bisa lewat buku atau browsing ( di sini tempatnya tentang parenting skill ). Minimalisir ketergantungan pengasuhan pada kedua orang tua. Jangan suka bertengkar atau berdebat di depan mereka Karena itu mengindikasikan bahwa kalian masih ‘anak-anak’ di mata mereka.

Sikap kedua : Kikis kesenjangan hubungan antara menantu dan mertua
Sesantai apapun dan se-cuek apapun mertua anda, tetap tidak mungkin di samakan dengan ibu sendiri. Pasti ada ewuh pakewuh, sungkan ataupun canggung saat berhubungan dengan mertua. Apalagi sifat mereka pendiam, kaku atau keras. Bagaimanapun kebekuan hubungan itu harus segera di cairkan. Karena anda akan selamanya hidup dengan mertua anda. Bangunlah sikap bahwa ibu atau bapak mertua adalah orang tua kita sendiri. Bayangkan saja kita dulu lahir dari rahimnya. Beri perhatian mereka seperti kita memperhatikan ortu kita sendiri. Belikan sesuatu yang spesial, pada hari spesial. Berikan barang kesukaan beliau. Kalau bisa bercengkeramalah sekali-kali. Bicarakan sesuatu yang mereka suka. Kalau hendak kerja, ciumlah tangan mereka, dan minta ijin sesopan mungkin. Lambat laun kebekuan hubungan itu akan lumer juga. Lama-lama anda dan mertua akan semakin akrab. Setelah makin akrab yan perlu di perhatikan adalah tetap menjaga kesopanan dengan mereka. Jangan membuat mereka Nampak tidak bijaksana dihadapan anda karena itu bisa berarti merendahkan perasaan mereka. Bagaimanapun mereka tetaplah orang tua kita yang semestinya di hormati.

Sikap ketiga : Tembus tabir privasi
sudah jangan ngeyel kalau anda sangat butuh berduaan dengan pasangan anda. Bercengkrama dan memadu kasih. Kalau bisa anda saja yang punya dunia ini, yang lainnya kontrak. Tapi sudah saatnya anda bangun dari mimpi. Dunia anda adalah sebatas daun kelor. Apalagi kalau anda di pondok mertua indah. Dunia anda hanya sebatas daun pintu kamar. He2 Tapi itu adalah pemikiran yang salah. Yaitu berfikir kalau kita tinggal di rumah mertua akan mengurangi kemerdekaan kita. Anda dan pasangan merasa sedikit 'terganggu' dengan keberadaan mereka (ortu). Tapi coba kita berfikir ulang, dan melihat dari sisi mereka. Apakah mereka tidak ‘terganggu’ dengan keberadaan anda di rumahnya? Apakah dengan adanya anda, membuat mereka bebas berbuat apa saja? Tentu tidak bukan? Kalau mau rugi-rugian, sebenarnya mereka lebih rugi. Anda Sudah dapat anaknya. Dapat tempat tinggal. Gratis lagi! Sebenarnya keprifasian itu tergantung pada mind-set seseorang kok. Karena sebenarnya segala tindakan kita ada batasnya. Begitupun dengan tempat. Jangan anggap kita bisa melakukan apapun, dimanapun kita suka. Karena aturan pasti berlaku dimanapun. Tak terkecuali di rumah kita/mertua. Kalau kita mau bebas melakukan apapun bisa kok, itu di hutan, atau ke laut aje. Sebenarnya mertua akan fine-fine saja dengan tindak tanduk kita, asalkan positif. Mau duduk-duduk santai bisa di ruang tengah. Mau melakukan hobi, di taman belakang juga ortu enggak melarang. Mau tidur di depan tv, monggo. Maka selalu berbahagialah di setiap jengkal rumah mertua. Oya, satu lagi, jangan anggap kamar anda itu sempit. Karena jika hati anda luas, kamar itupun juga akan terasa luas bagi anda dan pasangan. Demikian juga sebaliknya.

Sikap keempat : Anggap ini rumah sendiri!
Siapa sih yang tidak ingin punya rumah sendiri, atas kreasi sendiri dan dari hasil jerih payah sendiri. Ini akan terasa membahagiakan. Apalagi jika ada yang berkunjung ke rumah kita, kita akan bangga menjamu mereka di rumah kita. Nah, kalau kondisinya memaksa anda untuk tinggal di rumah mertua bagaimana? Satu-satunya jalan adalah menganggap rumah mertua adalah rumah sendiri. Pondok mertua indah bukanlah sebuah rumah orang lain bagi anda. Itu rumah istri anda. Anda mesti ikut memilikinya dan memeliharanya. Anggaplah kelak akan di wariskan kepada anda meski anda tidak boleh berharap dapat warisan rumah. Duit segudang boleh. He2. Kuncinya ikut merasa memiliki. Masak anda bisa memiliki anaknya mertua, tapi tidak bisa memiliki rumahnya mertua? ^_^ Rasa kepemilikan itu bisa diejawantahkan dengan ikut memelihara rumah mertua. Dan secara Rutin membersihkan rumah tiap hari. Sekali-kali boleh-lah mendekor ulang perabot rumah yang ada. Kalau perlu anda belikan perabot baru. Mertua akan senang jika rumahnya di rawat, apalagi oleh menantunya sendiri. Itu berarti ia percaya pada anda seperti ia mempercayakan anaknya. (kaskus.co.id/nazlicious)

Terlalu panjang artikelnya? Tidak masalah harusnya. Kalau manfaatnya juga jangka panjang, apakah anda merasa rugi telah membaca? Akhir kata berbahagialah wahai para menantu yang tinggal di rumah mertua. Seperti saya, seperti ribuan menantu lainnya di Indonesia yang telah banyak mereguk asam garam lika-liku tinggal di rumah mertua. Maka tak ada kata berhenti meninggali.
Move on and be happy!